Review Aliens: Colonial Marines

Write by Andy Chan – VGI
 
Siapa tidak kenal dengan film James Cameron yang berjudul Aliens? Film tersebut mengisahkan Ellen Ripley (Sigourney Weaver) yang harus berusaha survive dari serangan Xenomorph. Kini Gearbox dan SEGA telah mengeluarkan sebuah sekuel resmi dari film Aliens (film kedua) dalam bentuk game berjudul Aliens: Colonial Marines. Game ini adalah penghubung antara film Aliens dan Alien 3.

Facehuggers love you!
Aliens: Colonial Marines merupakan bagian dari franchise Aliens yang mengisahkan Corporal Christopher Winter, seorang Colonial Marines yang ditugaskan dalam misi penyelamatan untuk memeriksa U.S.S. Sulaco, dimana mereka harus menemukan para marine yang hilang tanpa penjelasan. Kita juga akan bisa bertemu dengan wajah yang tidak asing lagi bagi penggemar Aliens, yaitu Bishop sang android.

Ada Power Loader juga
Sebagai game first-person shooter dengan tema Aliens, tentu kita akan bisa menemukan senjata-senjata ikonik dari film Aliens seperti Pulse Rifle, Shotgun, Flamethrower, bahkan kita akan bisa mengendalikan Power Loaderserta menggunakan radar dengan bunyi khas seperti di filmnya.

Ditemani oleh AI
Kita tidak sendirian menjelajahi lokasi-lokasi ikonik Aliens seperti U.S.S. Sulaco. Kita akan ditemani oleh tim yang dikendalikan oleh AI. Sayangnya, AI pada Aliens: Colonial Marines cukup lemah, sering anggota tim kita terkadang diam saja di hadapan musuh, mengeker namun tidak menembak, dan sesekali mereka justru tersangkut di satu tempat sampai mereka nantinya mendadak teleport ke samping kita.

Nuansa dalam game Aliens: Colonial Marines
Nuansa dari Aliens memang ada, tapi feel survival horror seperti di film Aliens tidak terasa sama sekali. Game ini bisa diselesaikan dengan cara diam di pojokan dan menembaki para xenomorph yang datang berbaris ke arah kita karena para AI para aliens tidak menganggap anggota tim kita di depan adalah ancaman.
Para xenomorph memang cukup brutal menyerang kita, terkadang bisa membuat kita langsung mati karenainterface yang diberikan tidak intuitif. Untuk melakukan struggling kita harus melakukan button mashing, sementara tombol struggle tersebut kebetulan adalah tombol reload. Yang terjadi bisa-bisa setelah lepas darixenomorph, kita malah melakukan reload senjata.
Lucunya, kita tidak selalu berperang melawan aliens, karena ada bagian cukup panjang dimana kita justru berperang melawan mercenary sewaan Weyland Yutani. Sebuah section yang terkesan dibuat supaya ada musuh yang bisa menembaki kita.
Berbeda dengan game first-person shooter lainnya, Aliens: Colonial Marines mengijinkan kita untuk membawa semua senjata yang kita temui, termasuk smartgunpulse rifle, dua macam shotgungranathandgun dan sebagainya. Game ini juga menggunakan sistem yang cukup klasik, HP + ArmorArmor tidak akan regenerate, sementara HP terbagi menjadi tiga bar dimana HP tersebut hanya akan regenerate sampai ke batas bar-nya saja. Ini berarti kita harus melihat-lihat lokasi sambil mencari armor dan health pack untuk bisa melanjutkan perang jika sudah sekarat.

Upgrade senjata
Seiring dengan progress permainan, kita akan mendapatkan experience point sewaktu membunuh musuh dan menyelesaikan objektif. Points ini digunakan untuk melakukan upgrade dan kustomisasi senjata. Ini adalah sistem yang cukup menarik bagi penggemar kustomisasi. Sebagai contoh, kita bisa memasang shotgun di bagian bawah pulse rifle untuk mengatasi musuh yang terlalu dekat.
 
 

Gambar versi konsolnya tidak sebagus screenshot ini

Secara grafis, Aliens: Colonial Marines tampil bagaikan game tujuh tahun yang lalu. Tekstur yang ditampilkan benar-benar beresolusi rendah, terlihat ada screen tearing, ditambah dengan animasi para xenomorph yang menggelikan. Belum lagi masalah dengan karakter yang kita kendalikan, sama sekali tidak terlihat hidup. Sedih rasanya melihat para AI bisa melakukan slidingblindfire dan aksi-aksi lain sementara karakter kita kaku bagaikan FPS tahun 90’an.
Meskipun dari segi sound effect, kita akan langsung mengenali “ping” ikonik Aliens dan suara senjata yang cukup baik, namun voice acting terasa bagaikan sang aktor hanya meneleponkan suaranya saja. Apalagi di bagian awalcutscene game, terlihat dan terdengar jelas bahwa meskipun karakter di layar tampak sedang berbicara, namun suaranya terdengar seperti keluar dari radio. Tidak ada rasa immersive sama sekali.


Multiplayer

Aliens: Colonial Marines juga memiliki mode multiplayer. Selain mode co-op dalam campaign, ada berbagai mode yang bisa dimainkan, di antaranya adalah Team Deathmatch, Extermination, Escape dan Survival.


Para xenomorph dimainkan secara third-person view

Tersedia juga character customization untuk mode multiplayer, termasuk di antaranya adalah Marine wanita serta mengkustomisasi para xenomorph dengan parts dan warna yang unik. Yang agak berbeda di sini, jika kita mengendalikan para xenomorph, maka kita akan disuguhkan tampilan secara third person.

Secara keseluruhan, Aliens: Colonial Marines memang bisa membawa kita ke dunia Aliens, namun dunianya benar-benar membosankan dan tidak layak dikunjungi. Hadirnya Bishop dan Hicks dalam game ini tidak bisa menyelamatkan kualitas yang buruk dan predikat “just another shooter” pada Aliens: Colonial Marines.

Apakah kalian termasuk fans Aliens yang benar-benar ingin game bagus? Sebaiknya lewatkan Aliens: Colonial Marines. Game ini tidak jauh berbeda dengan game first-person shooter satu lagi dari Gearbox, yaitu Duke Nukem Forever. Dengan menggunakan nama besar Aliens, game ini mencoba menjadi film dan menjadi game, dan gagal dua-duanya.


Keberadaan bintang terkenal macam Lance Henriksen tidak bisa menyelamatkan game ini.

Rasanya lebih asik memainkan game Aliens: Infestation di Nintendo DS, lebih terasa survival dan seru daripada memainkan game yang justru merupakan sekuel resmi Aliens ini. (ZBT)

VGI RATINGS FOR ALIENS: COLONIAL MARINES

6.0 Gameplay”Just another shooter” yang dikemas dalam bungkusan franchise Aliens.
4.0 GraphicBagaikan game beberapa tahun silam yang dipaksakan hadir di konsol saat ini.
4.0 SoundMeskipun sound effect cukup baik, namun voice acting teras kurang kualitasnya.
2.0 LongevityBukan game yang fun untuk dimainkan berulang-ulang.
4.0 (Poor)
OVERALL
Demikian review yang diperoleh dari VGI. Silakan kunjungi DollyKidz.com untuk membeli Game ini dengan harga spesial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: