Review Castlevania: Lords of Shadow – Mirror of Fate

by LeeYunRain – VGI

Dua tahun yang lalu dunia telah dipertemukan dengan sebuah pengembangan yang merupakan reboot Konami terhadap judul Castlevania. Meski tak lagi di bawah bayang-bayang Koji Igarashi (IGA) selaku pakar di balik sejumlah Castlevania terfavorit dalam lebih dari satu dekade terakhir, reboot yang memperkenalkan diri sebagaiCastlevania: Lords of Shadow itu bukanlah sesuatu yang patut dinilai buruk. Dengan penanganan yang diserahkan pada Mercury Steam, Lords of Shadow adalah percobaan Castlevania di alam 3D seperti halnya yang juga pernah dicoba IGA dengan Castlevania: Lament of Innocence dan Castlevania: Curse of Darkness. Bahkan,reboot itupun turut melibatkan Hideo Kojima yang tidak lain ialah kreator dari Metal Gear di dalamnya.
Melakukan penceritaan berbeda dari apa yang pernah diketahui dan menempatkan fans pada perspektif seorang tokoh baru, Lords of Shadow memperkenalkan ulang kisah perburuan para makhluk kegelapan yang diawalinya dengan Gabriel Belmont. Setelah menutup game pertamanya dengan akhir yang terbuka akan kelanjutan, Mercury Steam rupanya tidak tanggung-tanggung untuk langsung menyiapkan dua. Akan dapat dinikmati sekaligus oleh fans pada tahun 2013 ini, adalah Castlevania: Lords of Shadow 2 dan Castlevania: Lords of Shadow – Mirror of Fate. Sementara Lords of Shadow 2 masih menjadi judul multiplatform dan baru akan dirilis kemudian, Mirror of Fate merupakan sebuah interkuel khusus 3DS yang menjembatani cerita antara Lords of Shadow pertama dan kedua.
Setelah game pendahulunya yang cukup terkesan kental akan pengaruh God of War, hadir sebagai eksklusif 3DS dalam layar portabel kali ini nyatanya pun mampu tetap mensosialisasikan beberapa feel yang serupa. Memang,Mirror of Fate mengemas tampilan gameplay-nya secara berbeda dan cenderung membuat fans lebih berekspektasi akan kembalinya judul ini pada kiblat 2D yang khas dari franchise-nya. Akan tetapi, ide membawakannya ke dalam format yang digolongkan 2,5D ini masihlah dibarengi dengan mekanisme combatplus elemen quick-time events (QTE) yang merupakan esensi tersendiri dalam Lords of Shadow, walau sedikit disayangkan Mirror of Fate belumlah mengeksplor lebih lanjut gaya “Metroidvania” yang sangat diangkat lewatCastlevania: Symphony of the Night. Mengingat Symphony of the Night sebagai salah satu Castlevania terfavorit sepanjang masa, judul itupun turut mendatangkan seorang tokoh utama yang jadi favorit. Dan kembalinya sang tokoh, Alucard, mungkin memang salah satu alasan fans memainkan Mirror of Fate, di samping ketiga Belmont yang merupakan karakter playable lainnya: Gabriel, Trevor, dan Simon.
Meski dengan adanya empat tokoh playable, hal tersebut pada nyatanya tidaklah terlalu banyak memberikan perbedaan terhadap cara bertarungnya masing-masing. Itu dikarenakan oleh tiap karakter yang memang dimodali dengan senjata menyerupai whip sebagai metode bertarung yang utama sekaligus memberikan sentuhanplatforming-nya. Adapun perbedaan terhadap satu tokoh dengan yang lain cenderung terdapat pada beberapa kemampuan spesifik yang dimiliki karakter tertentu dan macam sub-weapon yang diperoleh menurut skenario tiap jagoannya. Misalnya, Alucard yang diberikan kemampuan menyerang dengan memanfaatkan kawanan kelelawar, juga dapat berubah wujud menjadi serigala. Lain halnya dengan karakteristik Trevor yang cenderung memanfaatkan kemampuan transisi Light & Dark Magic, atau Simon yang terhitung unik dengan memanfaatkanassist berupa Spirit of Belnades & Schneider.
Selebihnya, aspek pertarungan dengan cambuk rasanya memang hampir tidak banyak berbeda antara satu sama lain. Mekanisme combat yang terbilang cukup bagus, dengan mempertimbangkan Mercury Steam yang memungkinkan gamers tetap dapat melancarkan combo, counter, dan melakukan evade di alam 2,5D layaknya pada alam 3D Lords of Shadow. Seperti di Lords of Shadow aslinya, Mirror of Fate pun berupaya memunculkan beberapa lawan di layar dalam sekaligus. Dibawakan dalam alam dengan dimensi bersifat sidescrolling kontan menempatkan beberapa lawan pada posisi yang menjepit karakter kalian, yang sayangnya malahan kerap kali kurang didukung oleh kualitas frame rate-nya.
 

Eksplorasi, walau belum terlalu dalam digali, setidaknya tetap menawarkan porsi tersendiri di samping dari aksiplatforming memanfaatkan cambuk seperti yang sudah dibawakan Lords of Shadow. Selain itu, game ini juga tidak lepas dari beberapa segmen puzzle yang masih dibawakan guna memberikan selingan tersendiri. Dan mengingat Mirror of Fate sebagai judul yang hadir untuk 3DS, mekanisme touch screen pada game ini diterapkan untuk menyajikan tampilan map pada layar kedua, yang mana cukup mempermudah gamers melihatnya tanpa harus membuka menu khusus. Lalu, bisa juga untuk mengakses beberapa menu, sub-weapon/skill, atau bahkan menandai bagian map yang perlu diingat. Seperti yang jadi tradisi dari sejumlah judul terdahulu, sistem map ini masih jadi salah satu nilai lebih dalam melakukan eksplorasi. Sedikit disayangkan, progress gameplay yang linier jugalah yang tampaknya ikut mempengaruhi keterbatasan eksplorasi, selain dari rancangan map yang memang belum sepenuhnya memfasilitasi.
Jelas, game ini tidak akan menjadi sebuah Castlevania apabila tanpa hadirnya boss battle. Masih dengan menerapkan metode serangan berpola dari tiap boss, eksis di alam 2,5D rupanya juga tidak menghalangi implementasi berbentuk QTE pada akhir bagian (di-trigger dengan grab), seperti yang sudah lebih dulu diperkenalkan dari Lords of Shadow sebelumnya.

Seperti yang telah dijelaskan melalui aspek gameplay-nya, Mirror of Fate mengemas tampilan dalam kualitas yang boleh dibilang merupakan pertemuan dari identitas Castlevania 2D dan sinematisasi 3D Lords of Shadow. Hal tersebut membuat grafis tetap terkesan update dan tidak ketinggalan. Obyek-obyek dan karakter tampak tersaji dalam detil 3D yang dapat dilihat jelas dengan fitur 3D dari 3DS. Ditambah pula dengan visualisasi QTE dan beberapa sekuens yang mengubah perspektifnya untuk kesan lebih dramatis. Sementara untuk penyajiancutscene-nya, dikemas apik dengan gaya art yang menawan dan dapat menjadi ciri tersendiri.
Secara musik, beberapa BGM terdengar orkestral dan cukup memberi feel yang epik dalam mengiringi sejumlah momen, meski paduan musik yang agak monoton rasanya masih belum membuat aspek satu ini dinilai menonjol. Untuk kualitas voice acting-nya, para pengisi suara boleh dikatakan telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Layaknya game-game Castlevania yang menawarkan eksplorasi sebagai bagian di dalamnya, ada kalanya Mirror of Fate pun mampu menyita waktu gamers selama beberapa waktu lebih lama. Terdapat Bestiary untuk dilengkapi, tampilan map untuk dijelajahi, leveling (sayang hanya sebatas maksimal 18), lalu tambahanmaximum health dan magic yang dapat diperoleh dengan melakukan backtracking ke sejumlah pelosok kastil. Seperti yang sudah jadi salah satu tradisi franchise ini, fans akan kembali menemukan area-area terisolir yang baru dapat dibuka setelah memperoleh kekuatan tertentu. Di samping dari beberapa hal itu, terdapat Hardcore Mode yang akan terbuka dengan menyelesaikan game ini sekali. Dengan mencoba playthrough untuk kedua kali, gamers sepertinya pun tidak butuh waktu terlalu lama untuk mencapai penyelesaian 100% atas game ini, yang akan memberikan reward berupa cutscene rahasia.

Castlevania: Lords of Shadow – Mirror of Fate  merupakan sebuah pengobat rindu yang cukup memuaskan untuk dimainkan. Boleh dikatakan, mungkin memang seperti inilah sepatutnya sebuah Castlevania bergayasidescrolling menurut generasi sistem saat ini. Akan tetapi, hal tersebut bukan juga telah mengartikannya sebuah game yang tanpa cela untuk dibandingkan oleh para fans lamanya. Sementara tidak diragukan masih ada cukup banyak ekspektasi yang belum sempat direalisasikan Mercury Steam dalam game kali ini, setidaknya Mirror of Fate cukuplah menggambarkan sebuah transisi yang baik dari Castlevania 2D  ke dalam kemasan yang lebih modern dan sesuai dengan jamannya. Bisa saja pada pengembangan sejenis yang berikutnya, sang developersudah berniat menambahkan lebih banyak polesan untuk menyempurnakannya. Mungkin di antaranya dengan mengembalikan atribut equipment yang mempengaruhi status dan secret yang lebih banyak seperti dalamSymphony of the Night? (LYR)

VGI RATINGS FOR CASTLEVANIA: LORDS OF SHADOW – MIRROR OF FATE

8.0 GameplayKonsep 2,5D cukup memberi kesan akan Castlevania sidescrolling yang modern dan sesuai jaman sekarang.
8.5 GraphicPenyajian cutscene dengan art yang bagus. Tampil sidescrolling tidak menghalangi 3D untuk tetap terlihat detil. Sayang, belum sepenuhnya didukung kualitas frame rate.
8.0 SoundMusik yang orkestral cukup memberi kesan epik pada sejumlah momen. Voice acting pun baik. Sayang, aspek ini rasanya masih belum cukup menonjol.
7.5 LongevityEksplorasi agak disayangkan belum menggali potensinya cukup dalam. 100% penyelesaian tidak butuh waktu terlalu lama untuk dicapai.
8.0Great
OVERALL
Dapatkan Game 3DS Castlevania Lords of Shadow – Mirror of Fate hanya di DollyKidz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: